Senin, 18 Juni 2012

Hidup adalah Pilihan



LDSHTI
Banyak yang berkata bahwa hidup adalah pilihan. Namun lebih banyak lagi kutemui orang-orang yang sampai tua umurnya tidak berani me gambil sebuah pilihan besar dalam hidupnya. Banyak orang yang semenjak muda sampai keriput kulitnya tetap saja menjadi petani yang secara ekonomi hidupnya pas-pasan dengan sawah yang tak pernah bertambah luas. Ada juga yang masih terhitung keluarga dekatku sendiri, yang semenjak aku kecil sampai sekarang masih saja menjadi tukang ojek yang gemar mabuk dan tidur di jalanan.
Beberapa contoh tersebut membuatku tersadar, apalagi setelah kemarin mendapat petuah dari Ir. Hanafi (Teknik Kimia ITS angkatan pertama), bahwa hidup yang hanya mengikuti arus adalah hidup yang berbahaya. Tidak ada yang bisa menjamin bahwa arus yang kita ikuti akan membawa kita menuju kehidupan yang lebih baik. Sekali lagi, tidak ada yang bisa menjamin hal itu.
Untuk menjadikan hidup bermakna, setiap orang harus berani mengambil pilihan. Sesulit apapun itu. Sebagai contoh, dulu ibuku berani memilih untuk terus melanjutkan sekolah di tengah kemiskinan keluarga kakekku, walaupun konsekuensinya beliau harus menanakkan nasi untuk para pekerja di sebuah pabrik gula rumahan setiap jam tiga pagi. Hal tersebut harus dilakukan untuk mendapatkan biaya SPP dan uang saku untuk transport ke sekolah. saat itu, di usia yang masih sangat belia ibuku sudah berani memilih. Beliau tidak mau hidupnya hanya berakhir sebagai petani kecil yang pas-pasan, seperti yang kini dijalani oleh teman-teman sepermainannya dulu.
andi rohendi
Selain contoh di atas, contoh lain yang cakupannya jauh lebih luas dapat kita lihat dari founding father kita, Ir. Sukarno. Sebagai seorang engineer di jama Hindia-Belanda, tentunya Sukarno bisa ikut arus dengan hidup mewah dan mendapat gaji besar dari pemerintah waktu itu. namun, rasa nasionalisme yang memuncak dan jiwa agitatornya yang bergelora telah memaksanya untuk membuat sebuah pilihan besar, bahwa negeri yang kaya raya ini tidak boleh lagi dihisap oleh lintah-lintah raksasa yang bernama Belanda. “Negeri ini harus merdeka!” Katanya. Walaupun pilihan tersebut harus dibayarnya dengan keluar-masuk penjara dan berpindah-pindah dari tempat pembuangan satu ke tempat pembuangan lainnya.
Untuk itulah, sudah saatnya kita mulai berani mengambil pilihan dalam hidup. Sesulit apapun itu, dan seberat apapun konsekuensinya. Karena tentunya kita semua tidak ingin menghabiskan hidup kita hanya sebagai saksi atas terbit dan terbenamnya matahari, tanpa makna lebih.
Beran memilih, berani melawan arus, dan selalu siap menghadapi konsekuensinya. Bismillah Yakin, Usaha, Sampai!!

2 komentar: