Hidup adalah Pilihan
 |
| LDSHTI |
Banyak yang
berkata bahwa hidup adalah pilihan. Namun lebih banyak lagi kutemui
orang-orang yang sampai tua umurnya tidak berani me gambil sebuah
pilihan besar dalam hidupnya. Banyak orang yang semenjak muda sampai
keriput kulitnya tetap saja menjadi petani yang secara ekonomi hidupnya
pas-pasan dengan sawah yang tak pernah bertambah luas. Ada juga yang
masih terhitung keluarga dekatku sendiri, yang semenjak aku kecil sampai
sekarang masih saja menjadi tukang ojek yang gemar mabuk dan tidur di
jalanan.
Beberapa contoh
tersebut membuatku tersadar, apalagi setelah kemarin mendapat petuah
dari Ir. Hanafi (Teknik Kimia ITS angkatan pertama), bahwa hidup yang
hanya mengikuti arus adalah hidup yang berbahaya. Tidak ada yang bisa
menjamin bahwa arus yang kita ikuti akan membawa kita menuju kehidupan
yang lebih baik. Sekali lagi, tidak ada yang bisa menjamin hal itu.
Untuk menjadikan hidup
bermakna, setiap orang harus berani mengambil pilihan. Sesulit apapun
itu. Sebagai contoh, dulu ibuku berani memilih untuk terus melanjutkan
sekolah di tengah kemiskinan keluarga kakekku, walaupun konsekuensinya
beliau harus menanakkan nasi untuk para pekerja di sebuah pabrik gula
rumahan setiap jam tiga pagi. Hal tersebut harus dilakukan untuk
mendapatkan biaya SPP dan uang saku untuk transport ke sekolah. saat
itu, di usia yang masih sangat belia ibuku sudah berani memilih. Beliau
tidak mau hidupnya hanya berakhir sebagai petani kecil yang pas-pasan,
seperti yang kini dijalani oleh teman-teman sepermainannya dulu.
 |
| andi rohendi |
Selain contoh di atas, contoh lain yang cakupannya jauh lebih luas dapat kita lihat dari
founding father
kita, Ir. Sukarno. Sebagai seorang engineer di jama Hindia-Belanda,
tentunya Sukarno bisa ikut arus dengan hidup mewah dan mendapat gaji
besar dari pemerintah waktu itu. namun, rasa nasionalisme yang memuncak
dan jiwa agitatornya yang bergelora telah memaksanya untuk membuat
sebuah pilihan besar, bahwa negeri yang kaya raya ini tidak boleh lagi
dihisap oleh lintah-lintah raksasa yang bernama Belanda. “Negeri ini
harus merdeka!” Katanya. Walaupun pilihan tersebut harus dibayarnya
dengan keluar-masuk penjara dan berpindah-pindah dari tempat pembuangan
satu ke tempat pembuangan lainnya.
Untuk itulah, sudah
saatnya kita mulai berani mengambil pilihan dalam hidup. Sesulit apapun
itu, dan seberat apapun konsekuensinya. Karena tentunya kita semua tidak
ingin menghabiskan hidup kita hanya sebagai saksi atas terbit dan
terbenamnya matahari, tanpa makna lebih.
Beran memilih, berani melawan arus, dan selalu siap menghadapi konsekuensinya. Bismillah Yakin, Usaha, Sampai!!